Siang itu Dania tidak keluar rumah seperti biasa ia lakukan, ia lebih memeilih di kamar mengotak-atik komputernya. Seorang wanita setengah baya mengetuk pintu kamar Dania.
“Sayang,,,makan siangnya sudah siap.”
“Ya, ma! Sebentar lagi” teriak Dania sambil terus menatap layar komputernya. Mama Dania masuk ke kamar, ia melihat anaknya yang sedang serius di depan komputer.
“Sayang, tumben kamu gak main dulu ke rumah temen? Biasanya jam segini kamu belum sampai rumah, sepulang sekolah?” sambil mengelus rambut Dania.
“iya nih ma, aku ada tugas yang harus di kumpulkan besok. Jadi aku harus selesaikan sekarang”
“begitu ya?! Ya sudah tapi jang lupa makan ya!”
“iya ma”
Wanita itu segera pergi meninggalkan ruang kamar. Sesaat setelah mamanya pergi, Dania tersenyum sendiri, di benaknya tergambar wajah seorang laki-laki yang sedang ia kagumi. Seorang pemuda yang saat ini dekat dengannya.
“Aku kayak mimipi aja deh, di dekati cowok paling ganteng dan di kagumi banyak cewek di sekolah” Batin Dania.
***
Bel istirahat telah berbunyi, semua murid di sebuah SMU berhambur keluar kelas. Di sebuah tempat duduk di dekat taman sekolah, Dania duduk bersama seorang gadis cantik nan anggun.
“Sepertinya akhir-akhir ini Marvel dekat sama kamu, Dan?” Tanya gadis anggun itu.
“Hm…iya, kok kamu tau sih Fit??” Dania tersipu.
“Ehm…kamu suka ya sama Marvel? Kok tersipu-sipu gitu sih?” Fita menggoda.
“Eh…siapa yang suka dia? Gak kok! Aku kan cuma senyum? Lagian aku sama dia sekedar temenan aja”
“Hai cewek!” tiba-tiba terdengar suara pemuda yang tidak asing bagi mereka.
“Hai juga Marvel!” sapa Fita ramah. Dania tersenyum melihat Marvel.
“Ehm…sepertinya aku harus pergi nih? Aku takut ganggu kalian” lanjut Fita.
“Fita apaan sih?!” Dania menyikut temannya yang sedari tadi tersenyum seakan menyindirnya.
“gak papa, aku pergi dulu ya?” Fita lalu pergi menunggalkan mereka berdua. Kemudian Marvel duduk di samping Dania. Seketika jantung Dania terasa berhenti berdetak, perasaan gugup mulai ia rasakan.
“Dan, aku ganggu kamu gak?”
“E…eng…nggak kok” jawab Dania masih dengan perasaan gugupnya.
“Aku mau ngomong sesuatu sama kamu” Marvel lalu menatap wajah Dania.
Dania semakin gugup, tangannya mulai bergetar. Hatinya bertanya-tanya, apa mungkin Marvel mau bilang kalu dia menyukainya? Itu yang ada di pikiran Dania.
“Dan….”
“Iya…” Dania tidak berani menatap wajah Marvel.
“Sebenarnya aku sudah lama menyinpan perasaan ini, sejak pertama masuk kelas dua aku mulai menyukainya, tapi…sampai saat ini aku masih belum berani menyatakan cintaku padanya…” Wajahnya tersipu-sipu.
Dania terkejut, wajahnya Nampak keheranan. Sebenarnya siapa yang dimaksud Marvel? Hatinya bertanya-tanya.
“Aku berniat nembak dia, tapi aku gak sanggup” Marvel tersenyum malu.
“Nya?? Maksunya ‘nya’ siapa?” Tanya Dania penasaran.
“Fita lah, siapa lagi?” jawab marvel dengan Wajah berbinar.
Hati Dania teasa hancur saat mendengar pernyataan dari Marvel. Ternyata selama ini Marvel mendekatinya bukan karena menyukainya. Matanya mulai memerah, seakan ia ingin menangis sekarang juga tapi ia tak mungkin menangis di hadapan Marvel.
“Jadi, apa kamu mau membantuku, Dan…? Dania…?!” suara Marvel memecah lamunan Dania.
“Eh…iya?” Marvel menatap wajah Dania.
“hei…mata kamu merah, kenapa?”
“Gak, tadi aku kelilipan” Dania pura-pura mengusap matanya seolah terkena debu.
“Eh, td kamu Tanya apa?” lanjut Dania.
“ Ee…apa kamu mau bantu aku menyatakan perasaanku pada Fita?”
“Tentu saja aku mau, lagi pula Fota kan temen baikku?”
“Oke, kalau gitu sepulang sekolah tolong ajak Fita ke taman kota ya?” Dania tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
“Terimakasih, Dan…” dengan wajah gembira marvel pergi meninggalkan Dania sendiri. Dania merasa lemas setelah Marvel pergi, seakan-akan ia tidak punya semangat hidup lagi.
Sepulang sekolah, seperti janjinya tadi, Dania mengajak Fita ke taman kota untuk menemui Marvel. Disana Marvel menyatakan cintanya pada Fita di depan Dania. Hati Dania semakin teriris ketika Marvel dan Fita berpelukan.
***
Dania segera merubuhkan tubuh rampingnya ke atas ranjangnya. Airmatanya tak kuasa lagi ia bendung, bayangan Marvel dan Fita berpelukan masih terlihat jelas dibenaknya. Ucapan Marvel yang menyatakan bahwa ia menyukai Fita masih terngiang di telinganya. Dania sangat menyesal kemapa tidak dari awal ia menyadari bahwa Marvel menyukai Fita.
“Dan…Dania…!” suara lembut mamanya membuat lamunan Dania buyar. Dania menguasap airmata di pipinya, kemudian ia segera bangkit dan membuka pintu kamarnya.
“Iya ma, ada apa?” Dania berpura mengusap-usap matanya seolah baru bangun tidur.
“Kamu habis menangis, sayang?” Tanya mamanya sambil memerhatikan wjah anak gadisnya.
“Gak kok ma, aku baru bangun tadi ketiduran”
“Oh, begitu? Eh iya, Dania…di luar ada yang mencarimu, katanya temanmu?”
“Siapa ma?” Tanya Dania .
”entahlah, mama tidak tau. Dia tidak menyebutkan namanya”
Kening Dania mulai berkerut, hatinya bertanya-tanya siapa yang ada di depan untuk menemuinya? Dania membuka pintu perlahan, dilihatnya sosok pemuda tinggi memakai jaket berwarna hitam, berdiri membelakanginya.
“Maaf, kamu siapa ya?” Tanya Dania penasaran. Mendengar suara Dania, pemuda itu langsung membalikkan tubuhnya. Dania terperangah.
“Siang Dania, sorry ya ganggu?”
“Alan?” Dania terkejut melihat pemuda dihadapannya. Pemuda itu tersenyum manis lalu memberikan sebuket bunga lili putih kepada Dania.
“Ini bunga buat kamu Dan..”
“Ee…e…terimakasih ya?” wajah Dania masih Nampak bingung dengan ini semua. Alan hanya tersenyum melihat Dania.
“Kamu pasti bingung ya? ………aku tau semuanya, kamu lagi patah hati sama Marvel kan?”
“Kok kamu tau sih?” kening Dania berkerut.
“Ya aku tau’lah, bahkan aku tau kalau kamu menyimpan perasaan sama Marvel”
“Dari mana kamu tau?” Tanya Dania heran.
“Dari mata mu!!! Sebenarnya udah lama aku suka sama kamu, cuma belum ada kesempatan buat bilang sama kamu. Saat Marvel mendekati mu, aku pikir dia menyukaimu. Dan aku lihat kamu juga suka jadi aku urungkan niatku untuk mendekatimu. Tapi saat aku dengar kalau Marvel jadian sama Fita, aku langsung kesini” jelas Alan.
“Kamu kesini untuk menghiburku? Gak usah, makasih! Aku gak sedih-sedih banget kok”
“Gak Dan…aku kesini bukan untuk menghibirmu, tapi untuk meminta hatimu” wajah Alan serius.
Dania terdiam, ia tidak bisa berkata apa-apa. Alan berlutut di hadapan Dania, di raihnya tangan kanan Dania. Ia menatap wajah gadis itu.
“Dania, maukah kamu jadi pacarku?”
Mata Dania mulai berkaca, ia tidak menyangka disaat ia sedih kebahagiaan datang menghampirinya. Dania mengangguk, sebuah senyuman manis terukir di wajah gadis itu. Airmatanya menetes karena bahagia. Alan segera bangkit dan menghapus airmata di pipi Dania lalu ia dekap tubuh Dania dengan erat.
~ The end ~
